Kesan Nyaman Belajar di SD Mugeb

Hannes Zulfikar Alfaried, wisudawan angkatan XXI SD Muhammadiyah 1 GKB. Kesan Nyaman Belajar di SD Mugeb (Ria Rizaniyah/PWMU.CO)

PWMU.CO – Kesan Nyaman Belajar di SD Mugeb disampakan siswa SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (SD Mugeb) dalam Wisuda XXI secara virtual, Selasa (22/6/21).

Kegiatan yang digelar via Zoom Cloud Meeting ini diikuti 153 siswa kelas VI, bertema “Take a Chance and Get Ready for The Next Future“.

Hannes Zulfikar Alfaried, wisudawan SD Mugeb Kelas VI Bumi merasa bangga menjadi siswa SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik. “Alhamdulilah enam tahun bersekolah di SD Mugeb sangat memotivasi saya untuk selalu menjadi anak yang lebih baik dan berprestasi”, kata siswa yang bercita-cita menjadi arsitek ini.

Dia mengucapkan terima kasih untuk para guru yang dengan tulus ikhlas membimbing siswa mugeb menjadi pribadi yang baik dan islami. “Semoga ustadz dan ustadzah selalu diberi kesehatan sehingga bisa membimbing kami semua,” harapnya.

“Semoga SD Mugeb semakin maju dengan berbagai prestasi yang telah dicapai,” tambahnya.

Aretha Zizi Verina Iransyah, wisudawan angkatan XXI SD Muhammadiyah 1 GKB (Ria Rizaniyah/PWMU.CO)

Kesan Zizi

Siswa Kelas VI Venus, Aretha Zizi Verina Iransyah juga menyampaikan kesan baik sebagai siswa SD Mugeb.

“Zizi suka banget sekolah disini! Bisa punya teman banyak, ustadz dan ustadzahnya juga sangat ramah, sabar, dan menyenangkan,”, katanya.

Dia merasa nyaman belajar di SD Mugeb sebagai sekolah ramah anak. Banyak pengalaman yang menyenangkan selama di mugeb.

“Semoga SD Mugeb bisa mendapatkan prestasi yg banyak, semakin maju dan semoga ustadz, ustadzah dan adik kelas sehat selalu dan tetap semangat walaupun pandemi!”, harapnya. (*)

Kontributor Ria Rizaniyah Editor Mohammad Nurfatoni

Sumber : https://pwmu.co/196936/06/23/kesan-nyaman-belajar-di-sd-mugeb/

Analisa tentang Sombong yang Menyesatkan Masa Depan

Analisa tentang Sombong yang Menyesatkan Masa Depan (Tangkapan layar Sayyidah Nuriyah/PWMU.CO)

PWMU.CO – Analisa tentang Sombong yang Menyesatkan Masa Depan. Analisa Widyaningrum MPsi Psikolog menyampakan itu saat memberi motivasi pendidikan di Wisuda XXI SD Muhammadiyah 1 GKB (SD Mugeb), Selasa (22/6/21).

Pemikiran ini kebalikan dari pemikiran fixed mindset atau “sombong” yang pernah menyesatkannya ketika belajar di SMP. Analisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajak para peserta belajar dari pengalaman belajarnya selama ini.

Partner belajar Wardah Inspiring Teacher di Auckland 2019 itu berpendapat, pendidikan adalah eskalator untuk mencapai masa depan yang bisa mengubah kehidupan kita.

Indonesia 2045 Negara Kaya

Analisa—panggilan akrab founder Sehati Menginspirasi itu—mengungkap kesepakatan dalam sebuah konferensi internasional di awal pandemi. Saat itu dia hadir bersama Kemenpora, pelajar Indonesia, dan anak-anak muda di negara itu.

“Semua sepakat, setiap bangsa punya masa depan, dan Indonesia… Tau nggak sih dek, 2045 kita akan diramalkan menjadi negara kaya?” kata dia.

Negara yang sangat kaya, menurut pembicara di Istanbul Youth Summit di Turki tahun 2020 itu, tidak mungkin jika tidak ditunjang dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.

Melihat efek pandemi yang luar biasa di bidang ekonomi, Analisa bertanya, “Apa bisa Indonesia jadi negara kaya di tahun 2045?”

Dia menjelaskan, 25 tahun ke depan, Indonesia mendapat “bonus” demografi. “Sekarang generasi yang paling banyak populasinya adalah milenial. Kita lagi dapat bonus dimana usia yang paling banyak di Indonesia itu jauh lebih banyak usia produktif yang menghasilkan pendapatan,” jelasnya.

Tapi, pada tahun 2045, akan terjadi penurunan: aging population. “Kita akan lebih banyak usia yang nonproduktif, jadi untuk mengejar kekayaan Indonesia di masa 2045, nggak akan tercapai atau sulit tercapai kalau nggak 25 tahun ini kita perjuangkan!” tuturnya.

Estafet Mimpi untuk Generasi Pemegang 2045

Analisa bertanya, “Di mana peran adik-adik yang sekarang baru lulus dari SD ini?”

“Sepuluh tahun lagi, anda akan memasuki usia di mana anda sudah meraih masa depan. Dan 10 tahun lagi merupakan momen 2045, misi Indonesia 2045 ada di tangan anda,” ungkapnya.

Pertanyaan lain muncul, “Bagaimana estafet mimpi-mimpi dari generasi sebelumnya ini bisa tercapai?”

Dia menyatakan punya keyakinan kuat terkait alasannya sebagai psikolog memilih aktif di media sosial, seperti Youtube. “Karena saya tau banget nih, anak-anak yang lahir di generasi Z dan Alfa kalau dibawa ke ruang psikolog biasanya sudah takut duluan,” ujarnya.

Tapi, lanjutnya, kalau diminta membuka Youtube, mereka langsung mau dan merasa dekat dengan psikolognya.

Jadikan Diri sebagai Nakhoda

Pada saat pandemi ini, Analisa menyatakan para wisudawan menghadapi tantangan berbeda. “Memang pandemi ini tidak mudah, kita semua lelah. Sekolah dari rumah, banyak yang merasa bosan,” ujarnya berempati.

Bahkan dalam penelitian tahun 2020, lanjutnya, banyak orangtua mengalami parental burnout. Dia menyadari semua sedang mengalami stres berkepanjangan, sampai akhirnya lelah atau mengalami pandemic fatigue. Ini akibat ketidakpastian kapan pandemi berakhir.

Meski demikian, dia meyakinkan, “Kita bisa survive (bertahan)!”

Psikolog klinis lulusan UGM itu mengarahkan wisudawan agar menempatkan diri sebagai nakhoda. “Seperti Anda adalah seorang nakhoda. Adik nahkoda di atas kapal masing-masing,” tuturnya.

Nakhoda itu tidak tahu navigasi yang mengarahkan dia untuk berlayar. “Itu bukan dia yang mengendalikan, tapi Allah!” tegasnya.

Pada saat mau berlayar menyeberangi pulau, lanjutnya, tiba-tiba angin datang dari barat. Padahal dia mau lewat sana. Mercusuar memberikan sinyal. Meski dia memohon agar angin itu tidak lewat jalur yang dilewatinya, angin itu tetap akan datang. Demikian Analisa menerangkannya.

Tapi, imbuhnya, nakhoda akan tetap sampai dengan catatan dia tau tujuannya ke mana. Sebab, dia punya navigasi kuat yang dia pahami, yakini, dan bisa menyesuaikan setir kapalnya.

Analisa kemudian menekankan kepada wisudawan, bukan berarti ketika mereka tidak bisa membuat sekolah daring ini selesai, mereka bisa menyalahkan pandemi. “Itu namanya nakhoda menyalahkan angin!” ujarnya.

We can’t control the wind (kita tidak bisa mengendalikan angin), kita hanya bisa menyesuaikan setir kita,” tuturnya.

Maka, Analisa menyarankan agar wisudawan membuat tujuan dan menjadi nakhoda yang punya navigasi.

Sombong” yang Menyesatkan Masa Depan

Analisa pun menceritakan kilas balik perjalanan belajarnya selama ini, dengan latar belakang ayahnya sebagai karyawan BUMN dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Usai lulus SD, Analisa kecil punya mimpi ingin lulus sekolah setinggi mungkin. Dia menceritakannya dengan mata berkaca-kaca.

Menjadi lulusan sekolah dasar yang mampu menembus SMP favorit di kota kelahirannya, Jogja, dan termasuk peringkat atas, membuatnya ‘sombong’. “Waktu SMP saya jadi malas belajar, karena merasa sudah pintar,” ceritanya.

Dia juga terlalu asik—dalam hal positif selain belajar—berorganisasi, jadi penyiar radio, dan atlet basket. “Sampai waktu ujian nasional, saya malah ikut kompetisi basket, di mana saya nggak belajar waktu itu,” ujarnya.

Akibatnya, Analisa lulus SMP dengan peringkat 256 dari sekitar 400 siswa. Padahal ia awalnya masuk dengan peringkat 10. “(Sekolah) di SMP yang saya pengin sudah tercapai, agak sombong dan asik dengan kegiatan lain, (jadi) masuk ke SMA yang jauh dari keinginan saya,” kisahnya.

Justru saat itu, sebagai nahkoda, Analisa mengaku sadar navigasinya agak tersesat. Dia pun mengingatkan, “Masuk SMP bukan akhir segalanya, melainkan awal menentukan masa depan!”

Mau Jadi Apa? Banyak Baca dan Eksplorasi!

Di SMA, Analisa mulai mencari tau akan kuliah di mana. Saat itu dia mengatakan pilihannya masih berubah-ubah. Jadi menurutnya wajar jika wisudawan yang masih lulus SD itu belum menentukan tujuan yang pasti dan realistis.

Baca Juga:  Mahfud MD: Korupsi Sekarang Lebih Parah dari Orba

“Tenang aja, berdasarkan teori yang saya pelajari pada saat kuliah, adik-adik kalau masih 12 tahun ke bawah, kalau ditanya mau jadi apa agak tidak realistis,” terangnya.

Misal, seperti anaknya yang menginjak usia tujuh tahun. Saat ditanya mau jadi apa, anaknya menjawab ingin jadi Elon Musk.

Dia menambahkan, saat lulus SD—berusia13 tahun—dan ditanya mau jadi apa, jawabannya masih berubah-ubah dan muncul ketidakpercayaan dalam diri. “Ah nggak ah, nggak mungkin, aku kan nggak pinter,” ujarnya mencontohkan.

Nanti, imbuhnya, ketika berusia 19 tahun baru mulai realistis. Meski menjadi tidak percaya diri lagi. Untuk itu, Analisa menyarankan agar wisudawan banyak membaca dan mengeksplorasi, sehingga tau mau menjadi apa nantinya.

Fixed Vs Growth Mindset dan Milestone

Meski di SMP sempat sombong, di SMA dia kembali berupaya tidak sombong. Sombong yang dia maksud berarti fixed mindset. “Bukan sombong secara terang-terangan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Analisa menjelaskan bentuk sikap sombong, “Punya pemikiran bahwa merasa sudah bisa, jadi setiap ada challenge (tantangan) kita hindari, jadi kita nggak mau belajar lebih.”

Lalu ketika gagal tes masuk UGM, Analisa menerapkan growth mindset. Dia mengikuti bimbingan belajar di dua tempat usai pulang sekolah. “Alhamdulillah keterima di (Universitas) Gajah Mada, di Fakultas Psikologi yang jadi keinginan saya,” ucapnya.

Dia kira mimpinya sudah menjadi kenyataan, tapi ternyata itu baru permulaan lagi. Katanya, ada mimpi lagi yang dia buat: milestone baru.

Analisa menyarankan kepada para wisudawan untuk menentukan milestone yang diinginkan dalam hidup. “Mau jadi apa sih? Walau pada perjalanannya mengalami kegagalan, tapi akhirnya tau navigasinya mau ke mana,” jelas dia. (*)

Analisa tentang Sombong yang Menyesatkan Masa Depan: Penulis Sayyidah Nuriyah Editor Mohammad Nurfatoni

Sumber : https://pwmu.co/196927/06/23/analisa-tentang-sombong-yang-menyesatkan-masa-depan/

34 Siswa Torehkan Tinta Emas di Wisuda XXI SD Mugeb

Pengumuman peraih penghargaan oleh Erna Ahmad (Tangkapan layar Yanita Intan Sariani/PWMU.CO)

PWMU.CO – 34 Siswa Torehkan Tinta Emas di Wisuda XXI SD Mugeb (SD Muhammadiyah 1 GKB) Gresik. Wisuda yang dilaksanakan secara virtual ini diikuti 153 siswa yang didampingi orangtua masing-masing, Selasa (22/6/21).

Kegiatan bertajuk “Take a Chance and Get Ready for The Next Future“ yang diikuti oleh siswa kelas VI melalui Zoom Cloud Meeting ini menjadi ajang penorehan tinta emas untuk peraih penghargaan siswa berprestasi.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Erna Ahmad M Pd membacakan lima kategori penghargaan siswa berprestasi. Yaitu kategori nilai terbaik ujian akhir sekolah diraih oleh 4 siswa, prestasi bidang akademik diraih 4 siswa, prestasi bidang nonakademik sebanyak 24 siswa, 1 siswa berprestasi nonakademik bidang teknologi, dan 1 siswa prestasi nonakademik bidang olahraga.

“Harapan kami prestasi yang sudah diraih bisa lebih memotivasi untuk tetap berprestasi dan meraih prestasi yang lebih baik lagi. Namun tetap down to earth alias tidak sombong,” ujar Erna saat diwawancarai PWMU.CO setelah kegiatan wisuda.

Penghargaan Nilai Terbaik Ujian Akhir Sekolah

Apriandhika Zhafran Y.—salah satu penerima penghargaan terbaik Ujian Akhir Sekolah bersyukur atas capaian itu. “Alhamdulillah senang sekali mendapat peraih nilai tertinggi,” ujarnya.

Siswa yang memiliki cita-cita menjadi arsitek ini membeberkan kiat sukses sehingga dia mampu menjadi meraih penghargaan nilai ujian sekolah tertinggi untuk tahun ini.

“Belajar yang tekun, rajin beribadah, dan mengulang pelajaran yang disampaikan oleh guru,” ungkap siswa pemalu yang hobi bermain lego ini.

Selain mendapatkan nilai tertinggi ujian akhir sekolah, putra dari Benny Yudianto dan Yuliana Arisanti ini juga memiliki prestasi akademik bidang matematika tingkat internasional. Tak salah jika setelah kegiatan wisuda pun siswa yang menyukai pelajaran matematika ini masih semangat mengikuti bimbingan belajar kimia untuk persiapan jenjang SMP.

Peraih penghargaan nilai terbaik ujian akhir sekolah angkatan ke XXI SD Mugeb. 34 Siswa Torehkan Tinta Emas di Wisuda XXI SD Mugeb (Tangkapan layar Yanita Intan Sariani/PWMU.CO)

Bertabur Penghargaan

Dalam kesempatan ini Ustadzah Erna Ahmad membacakan penghargaan bagi siswa berprestasi tahun pelajaran 2020-2021. Berikut ini adalah penghargaannya.

A. Nilai Terbaik Ujian Akhir Sekolah

  1. Apriandhika Zafran Y peringkat 1
  2. M Afriza Kasyafani peringkat 2
  3. Hannes Zulfikar A peringkat 3
  4. Nadine Elmira Z peringkat 4

B. Prestasi Bidang Akademik

  1. Aprika Zafran Y bidang matematika tingkat internasional
  2. Made anindita T M bidang IPA tingkat nasional
  3. Arzheta Zizi Verina I bidang Al Islam tingkat Kabupaten
  4. Arzheta Zizi Verina I bidang bahasa Inggris tingkat Kabupaten
Peraih penghargaan prestasi akademik SD Mugeb (Tangkapan layar Agus Budi U/PWMU.CO)

C. Prestasi Bidang Nonakademik

a. Tingkat Nasional

  1. M. Ghaisan Mirza R prestasi 15 karya terbaik Lomba Komik
  2. Dwisti Cheria M prestasi 3 besar peserta terfavorit puisi
  3. Kinar Pramesti L prestasi seni beladiri tapak suci
  4. M. Zafran R prestasi seni beladiri taekwondo
  5. Hanes Zulfikar A prestasi juara 1 lomba news reading
  6. Calista Almira S prestasi juara 2 cover lagi kwarda HW Sidoarjo
  7. Hasnamia Meutya prestasi harapan 1 ajang Dancow kreasi anak Indonesia
  8. M. Ilham M juara 2 pionering kwarda HW Sidoarjo
  9. Farah Maulidya juara 2 pionering kwarda HW Sidoarjo
  10. Mayza Qonira A juara 2 pionering kwarda HW Sidoarjo
  11. Felisha Aura S juara 1 PBB Kwarda HW Sidoarjo
  12. Suha Nabila A juara seni bela diri tapak suci
  13. Arzheta Zizi Verina juara 1 pidato bahasa inggris
  14. Afikah Khairina A juara 1 PBB Kwarda HW Sidoarjo

b. Tingkat Provinsi

  1. Lakesiha Ara F. Juara harapan 2 mendongeng dalam rangka bulan bahasa dan hari Pahlawan
  2. Keysha Qanitah juara 2 best costum lomba puisi cilik Polda Jawa Timur
  3. Rosmiranda Zalfa Z juara 2 best costum lomba puisi cilik Polda Jawa Timur
  4. Kyla Putri Q juara 2 best costum lomba puisi cilik Polda Jawa Timur
  5. Dinda Safira M juara 2 best costum lomba puisi cilik Polda Jawa Timur
  6. Nadira Zahra Z juara 2 best costum lomba puisi cilik Polda Jawa Timur

c. Tingkat Gerbang Kertasusila

  1. M. Brian Ramadhan prestasi seni bela diri tapak suci ajang Berlian Open
  2. Naura Aqilah G prestasi seni bela diri tapak suci ajang Berlian Open
  3. Arifah Hashna P prestasi seni bela diri tapak suci ajang Berlian Open
  4. Rizky Zafira A prestasi seni bela diri tapak suci ajang Berlian Open D. Prestasi nonakademik bidang teknologi
  5. M Fauzi Lazuardi juara 1 Challange Virtual Lego Design Studio 2.0 tingkat nasional

E. Prestasi Nonakademik Bidang Olahraga

  • Made Anindita T M lomba olahraga cabang renang tingkat Provinsi

Selamat!

Penulis Yanita Intan Sariani Editor Mohammad Nurfatoni

Sumber : https://pwmu.co/196918/06/23/34-siswa-torehkan-tinta-emas-di-wisuda-xxi-sd-mugeb/