Category Archives: Pengembangan Diri

Wisuda XXI SD Mugeb, Nor Qomari: Raih Kesempatan dan Kerja keras Demi Kesuksesan Masa Depan

Wisuda XXI virtual SD Muhammadiyah Gresik

Gresik, Investigasi.today – Bertema “Take a Chance and Get Ready for The Next Future”, SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (SD Mugeb) menggelar wisuda XXI secara virtual, via Zoom Cloud Meeting dan diikuti 153 siswa kelas VI, Selasa (23/6).

Kepala SD Mugeb M Nor Qomari SSi menyampaikan ucapan terima kasih kepada wali siswa dan undangan yang hadir dalam wisuda virtual kali ini.

“Terima kasih sebesar-besarnyanya atas waktu yang diluangkan oleh ayah bunda dan para undangan untuk menyaksikan bersama-sama wisudawan dan wisudawati kita kita yang insya allah, saya dan ustadz-ustadzah semua yakini mereka akan menjadi pemimpin masa depan,” ujarnya.

Ari berpesan kepada wisudawan agar mereka selalu berusaha mencapai kesuksesan. “Raihlah kesempatan, raihlah peluang untuk kesuksesan masa depan Kalian karena kesuksesan tidak lahir dari kemalasan, tapi kesuksesan diraih oleh kerja keras, ketulusan dan ketangguhan,” pesannya.

Wisuda SD Mugeb ini terasa spesial karena mendapat ucapan selamat Mas Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Riset). Selain dari Kemendikbud Riset, SD Mugeb juga mendapat ucapan dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa MSi, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani SE, dan tokoh penting lainnya.

Prosesi wisuda semakin lengkap dengan hadirnya Analisa Widyaningrum, pemateri motivasi pendidikan. Psikolog cantik sekaligus CEO APDC Indonesia ini memberikan motivasi bagi wisudawan dan orang tua.

Sebelum memberikan motivasi, Analisa mengajak beberapa siswa untuk berinteraksi langsung. “Selamat ya sudah lulus SD dan sebentar lagi mau SMP, rasanya pasti bukan hal yang mudah, ya?” tanya Analisa kepada salah satu wisudawan, Muhammad Ghaisan Mirza R.

Ghaisan, panggilan akrabnya, mengiyakan singkat. Analisa menyemangati wisudawan berkacamata itu dengan berpantun, “Jalan-jalan ke Bukittinggi, (cakeep!) jangan lupa naik bendi. Sekarang Gaisan bukan anak SD lagi, bulatkan tekad dan terus cari inspirasi. Semangat Ghaisan!”

Sebelum menyampaikan motivasinya, Analisa mengajak beberapa peserta berinteraksi langsung untuk mengonfirmasi bagaimana kemudahan menerapkan praktik baik pendidikan di tengah pandemi.

Dialog interaktif itupun berlanjut, giliran Radina Syifaiyah yang Analisa pilih untuk menjawab pertanyaannya. “Syifa kalau sudah gede mau jadi apa?”

Syifa menjawab ingin menjadi penjelajah ilmu. Jawaban itu membuat Analisa kagum. “Semoga niat baik Syifa untuk menjelajah ilmu dan memperdalam ilmu agama bisa membanggakan, terutama untuk keluarga dan ustadz-ustadzah yang ada di sekolah kamu” tutur Analisa.

Generasi Digital dan Dunia Internet
Analisa menyadari, di masa pandemi ini bukan perkara mudah bagi orangtua untuk memperoleh gambaran masa depan anak-anaknya. Pertanyaan orangtua yang umum dia dengar, apa yang bisa dilakukan untuk memperoleh gambaran masa depan anak, padahal sekarang sekolah hanya terbatas pada ruang kelas virtual.

Psikolog di Jogja International Hospital itu menerangkan, kalau ditanya ‘besok mau jadi apa?’, anak-anak yang lahir di generasi ini antusias menjawab ingin jadi Youtuber. Profesi ini memang menjadi salah satu yang paling diminati.

Rata-rata mereka ingin bekerja di balik dunia Internet. Sedikit yang ingin jadi dokter, psikolog, guru, dosen, pegawai negeri maupun pegawai perusahaan.

Analisa mengatakan 10 tahun lagi pekerjaan yang paling banyak dicari akan berhubungan dengan dunia teknologi dan internet.

Sekarang ini, di beberapa kampus, apalagi di luar negeri, sudah ada mata kuliah artificial intelligence atau AI (kecerdasan buatan). AI itu, menurutnya, menjadi masa depan kita.

“Kalau adik-adik sekarang merasa mimpinya pengin jadi Youtuber, web designer, artificial intelligence expert, big data analyst yang ini merupakan masa depan Indonesia, maka di sinilah kita sama-sama harus bermimpi besar!” pesannya kepada para wisudawan.

Analisa mengatakan bukan tidak mungkin masa depan anak-anak ada di dunia yang sekarang sedang mereka jelajahi. Namun pertanyaannya, bagaimana penentu masa depan mereka?

Bukan hanya guru dan sekolah yang menentukan masa depan anak, tapi juga orangtua di rumah. memasukkan anak ke sekolah bukan berarti sama seperti memasukkan anak ke laundry. Yang perlu menjadi perhatian, bagaimana kerjasama antara orangtua dan guru karena pandemi ini menjadi kunci praktik baik pendidikan. (Slv)

Sumber : https://investigasi.today/wisuda-xxi-sd-mugeb-nor-qomari-raih-kesempatan-dan-kerja-keras-demi-kesuksesan-masa-depan/

Wisuda Virtual, Lulusan SD Mugeb Gresik Diharap Terus Kembangkan Dir

Wisuda Virtual, Lulusan SD Mugeb Gresik Diharap Terus Kembangkan Diri
Wisuda virtual SD Mugeb Gresik (Foto: Tangkapan layar).

TIMESINDONESIA, GRESIK – Menggelar wisuda XXI secara virtual, SD Muhammadiyah 1 GKB (SD Mugeb Gresik) berharap para wisudawan terus mengembangkan diri.

Kegiatan wisuda yang digelar via Zoom dan diikuti 153 siswa kelas VI ini bertema ‘Take a Chance and Get Ready for The Next Future’.

Kepala SD Mugeb M Nor Qomari mengatakan karena dalam kondisi pandemi, pelaksanaan wisuda kali ini digelar secara daring atau virtual.

Dirinya juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnyanya atas waktu yang diluangkan oleh wali murid untuk menyaksikan bersama-sama wisudawan dan wisudawati.

“Saya dan ustadz-ustadzah semua meyakini mereka akan menjadi pemimpin masa depan,” ujar Ari, sapaan akrabnya ketika ditemui pada, Rabu (23/6/2021).

Dalam kesempatan ini, Ari berpesan kepada wisudawan agar mereka selalu berusaha mencapai kesuksesan dengan meraih kesempatan, rpeluang untuk kesuksesan di masa depan.

“Hal ini karena kesuksesan tidak lahir dari kemalasan, tapi kesuksesan diraih oleh kerja keras, ketulusan dan ketangguhan,” pesannya.

Wisuda SD Mugeb ini terasa spesial karena mendapat ucapan selamat dari Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Riset), Nadiem Anwar Makarim.

Ucapan selamat juga dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani serta dan tokoh penting lainnya.

Prosesi wisuda semakin lengkap dengan hadirnya Analisa Widyaningrum, pemateri motivasi pendidikan. Sebelum memberikan motivasi, ia mengajak beberapa siswa untuk berinteraksi langsung.

“Selamat ya sudah lulus SD dan sebentar lagi mau SMP, rasanya pasti bukan hal yang mudah, ya?” tanya Analisa kepada salah satu wisudawan, Muhammad Ghaisan Mirza R.

Ghaisan, panggilan akrabnya, mengiyakan singkat. Analisa  menyemangati wisudawan berkacamata itu dengan berpantun.

“Jalan-jalan ke Bukittinggi, (cakeep!) jangan lupa naik bendi. Sekarang Gaisan bukan anak SD lagi, bulatkan tekad dan terus cari inspirasi. Semangat Ghaisan!”

Sebelum menyampaikan motivasinya, Analisa mengajak beberapa peserta berinteraksi langsung untuk mengonfirmasi bagaimana kemudahan menerapkan praktik baik pendidikan di tengah pandemi.

Analisa menyatakan, Generasi Digital  dan Dunia Internet di masa pandemi ini bukan perkara mudah bagi orangtua untuk memperoleh gambaran masa depan anak-anaknya.

“Pertanyaan orangtua yang sering saya dengar, apa yang bisa dilakukan untuk memperoleh gambaran masa depan anak, padahal sekarang sekolah hanya terbatas pada ruang kelas virtual,” tambah dia.

Psikolog di Jogja International Hospital itu menerangkan, kalau ditanya ‘besok mau jadi apa?’, anak-anak yang lahir di generasi ini antusias menjawab ingin jadi Youtuber. Profesi ini memang menjadi salah satu yang paling diminati.

Analisa mengatakan 10 tahun lagi pekerjaan yang paling banyak dicari akan berhubungan dengan dunia teknologi dan internet. Sekarang ini, di beberapa kampus, apalagi di luar negeri, sudah ada mata kuliah artificial intelligence atau AI (kecerdasan buatan). AI itu, menurutnya, menjadi masa depan kita.

“Kalau adik-adik sekarang merasa mimpinya pengin jadi Youtuber, web designer, artificial intelligence expert, big data analyst yang ini merupakan masa depan Indonesia, maka di sinilah kita sama-sama harus bermimpi besar,” pesannya kepada para wisudawan.

Analisa mengatakan bukan tidak mungkin masa depan anak-anak ada di dunia yang sekarang sedang mereka jelajahi. Bukan hanya guru dan sekolah yang menentukan masa depan anak, tapi juga orangtua di rumah.

“Memasukkan anak ke sekolah bukan berarti sama seperti memasukkan anak ke laundry. Yang perlu menjadi perhatian, bagaimana kerjasama antara orangtua dan guru karena pandemi ini menjadi kunci praktik baik pendidikan,” tutupnya dalam wisuda virtual SD Mugeb Gresik(*)

Sumber : https://www.timesindonesia.co.id/read/news/354331/wisuda-virtual-lulusan-sd-mugeb-gresik-diharap-terus-kembangkan-diri

Cerita Kebohongan Ayah yang Bikin Haru

PWMU.CO – Cerita Kebohongan Ayah yang Bikin Haru. Analisa Widyaningrum MPsi Psikolog mengajak nobar ini sekaligus menutup sesi motivasinya di Wisuda XXI SD Muhammadiyah 1 GKB (SD Mugeb), dengan film pendek yang mengharukan, Selasa (22/6/21).

Analisa—panggilan akrabnya—bertanya, “Kenapa teman-teman hari ini harus punya masa depan?”

Dia lalu mengarahkan wisudawan untuk menemukan alasan sebagai jawaban pertanyaan: “Why you do what you do?” (mengapa melakukan apa yang kamu lakukan).

Agar bisa menjawabnya, dia mengajak peserta wisuda virtual—yang digelar pagi itu—menyaksikan video film pendek. Sekaligus, dia persembahkan kepada semua ayah dan ibu yang telah berjuang untuk hari ini.

Orangtua Idola dan Role Model Anak

Tampak adegan ayah mengantar anak perempuan kecilnya berangkat sekolah dengan berjalan. Anak itu memberi surat kepada sang ayah. Ayahnya langsung membacanya sambil terus berjalan bersama.

Daddy is the sweetest daddy in the world.” Itulah kalimat pertama suratnya. Artinya, ayah adalah ayah termanis di dunia.

Analisa pun berkomentar, “Kalian adalah idola bagi anak Kalian, Bapak Ibu.”

Kemudian, tampak ayah itu mengajari anaknya belajar di rumah. Menurut Analisa, ini menunjukkan orangtua juga menjadi role model bagi anak.

Lalu, terdengar anak itu memuji kepintaran ayahnya. “Apapun yang terjadi, Anda idola!” Analisa mengatakan dengan penuh penekanan di setiap kata.

Anak itu terus memuji ayahnya. Tapi langkah kaki mereka berhenti ketika ayah tiba membaca, “But he lies!” Dia bohong, tulis anaknya.

“Kalau Bapak Ibu menyadari, Anda idola untuk mereka. Tapi sebenarnya mereka melihat, bagaimana Anda menutupi sesuatu yang Anda rasa mereka tahu,” jelas Analisa.

Ada Pengorbanan Orangtua

Tepat ketika mereka tiba di sekolah, ayah membaca surat di mana anaknya menuliskan beberapa kebohongan ayah. Menyadari sang anak tahu “kebohongan-kebohongan”-nya, Ayah langsung lari sambil menangis.

Kebohongan pertama, He lies about having a job, he lies about having money (Dia bohong mempunyai pekerjaan dan uang).

Analisa menjelaskan, setiap ayah dan ibu tidak pernah bercerita betapa susahnya bekerja. “Gimana susahnya mencari uang anak nggak boleh tahu.

Kebohongan lainnya, He lies that he is not tired (Dia bohong tidak merasa lelah). “Kadang rasa lelah itu ditiadakan kalau kita sudah sampai rumah,” ungkapnya.

Kemudian tampak adegan anak itu membagi makanannya dengan sang ayah, tapi ayah menolaknya. He lies that he isn’t hungry (dia bohong tidak lapar).

Melihat adegan ini, Analisa berkomentar, “Ada pengorbanan yang dikorbankan, karena pengin kasih semua yang anak minta, yang terbaik untuk mereka.”

Anak itu menulis juga kebohongan ayahnya yang tampak bahagia, padahal tidak. “He lies about his happiness.”

“Kadang kebahagiaan itu dia abaikan,” ungkap Analisa.

Jawaban “Big Why”

Analisa menyatakan inilah saatnya membulatkan tekad. “Kalian semangat membahagiakan kedua orangtua Kalian, itulah big why yang Kalian ingat ketika lelah,” ungkapnya.

Baca Juga:  ‘Surga di Telapak Kaki Ibu’ SD Mugeb Buka HOTS Training Batch 3

Karena hari ini, sambungnya, apa yang diperjuangkan orangtua itu adalah mimpi besar mereka untuk melihat Anda semua sukses.

“Selamat Bapak Ibu berhasil mengantarkan anak ke jenjang yang lebih tinggi, saya yakin nggak mudah sampai di sini. Tapi setiap orangtua punya cerita dan perjalanannya masing-masing,” ujarnya kepada wali siswa yang mendampingi wisudawan di rumah masing-masing.

Enjoy your journey (nikmati perjalananmu)!” pesannya kepada wisudawan.

Dia mengimbau wisudawan agar jangan pernah merasa menjadi orang tidak beruntung di dunia ini. “Allah ada, memberi kita ujian tidak pernah melebihi kapasitas yang kita punya sebagai manusia,” terangnya.

Analisa lantas memberi semangat berjuang untuk menempuh perjalanan yang masih panjang. “Saya yakin nggak mudah, tapi bismillah!”

Akhirnya, Analisa menutup motivasinya dengan berpantun:
Kecil-kecil si ikan teri
sangat banyak di dalam kali
niatkan belajar sepenuh hati
semoga Allah memberkahi.

Penulis Sayyidah Nuriyah Editor Mohammad Nurfatoni

Sumber : https://pwmu.co/196960/06/24/cerita-kebohongan-ayah-yang-bikin-haru/