Dakwah Muhammadiyah itu Kultural, Bukan Gegap-Gempita.

IBTimes.ID – Manajemen Muhammadiyah bisa meniru manajemen masjid. Hal itu diungkapkan oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim Nadjib Hamid.

Dalam kegiatan Supervisory Management Program yang digelar Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gresik Kota Baru (GKB), Sabtu (2/1/2021) yang diikuti 27 peserta dari unsur kepala sekolah dan wakil sekolah Muhammadiyah GKB Gresik ini, Najib Hamid menjelaskan bahwa manajemen masjid itu artinya jika masjid semakin baik dikelola maka semakin baik pula perkembangannya.

“Itu yang seharusnya dilakukan dalam mengembangkan Amal Usaha Muhammadiyah,” ujarnya.

Muhammadiyah, lanjutnya, lahir karena motif gerakan keagamaan, karena itu spirit dan pemahaman keagamaan Muhammadiyah harus tuntas.

Dalam kegiatan yang dihelat di Aula SD Muhammadiyah 2 GKB (Berlian School) Gresik itu dia memaparkan bahwa belakangan ini berkembang beragam paham keagamaan dan ideologi yang tersebar secara masif melalui berbagai lini. Tidak sedikit warga, bahkan pimpinan persyarikatan, yang gagap menghadapi.

Paham Keagamaan Salafi.

Najib Hamid mengungkapkan aneka paham keagamaan tersebut jika diurai, bisa disederhanakan dalam dua katagori.

“Pertama, yang paham keagamaannya sangat berorientasi pada masa lalu atau salafi,” katanya.

Menurut kelompok ini, sambungnya, berislam yang benar adalah yang sesuai persis seperti pada zaman nabi. Baik terkait masalah ibadah atau ta’abbudi maupun masalah muamalah atau ta’aqquli.

Bagi kelompok ini, bersetuju dengan dasar negara Pancasila dianggap tidak Islami, sebab tidak sesuai dengan zaman nabi sehingga harus diperangi.

“Di Jawa Timur sendiri misalnya, pernah ada cabang yang membubarkan diri karena pimpinannya bermazhab seperti ini,” terangnya.

Paham Keagamaan Khalafi. 

Kedua, menurutnya, yang paham keagamaannya sangat berorientasi pada masa kini atau khalafi. Kelompok ini meyakini ada ajaran Islam yang sudah kedaluwarsa yang tidak wajib diikuti.

“Ketentuan al-Quran tentang waris. Misalnya, dianggap diskriminatif dan tidak sesuai dengan gerakan gender yang merebak saat ini, juga tentang minuman khamar,” katanya.

Dia mengungkapkan keharamannya dianggap hanya cocok bagi bangsa Arab yang panas. Sedangkan bagi yang tinggal di kawasan dingin, khamar dianggap menghangatkan sehingga tidak ada masalah. Termasuk larangan pernikahan sejenis yang dianggap melanggar hak asasi.

Konsep Dakwah di Muhammadiyah. 

Najib Hamid menjelaskan sejak awal dakwah amar makruf dan nahi mungkar Muhammadiyah dilakukan dalam bingkai gerakan kultural tanpa aura gegap-gempita.

“Dimulai ketika Muhammadiyah menyantuni anak-anak yatim dan fakir miskin serta janda-janda tua, sehingga terselamatkan akidahnya. Bukankah itu nahi mungkar yang luar biasa?” ujar Wakil Ketua PWM Jawa Timur itu.

Demikian pula, lanjutnya, ketika Muhammadiyah mendirikan pondok pesantren dan lembaga pendidikan lainnya untuk mencerdaskan anak bangsa sehingga terbebas dari penjajah. Termasuk pula di masa pandemi ini Muhammadiyah melalui rumah sakit dan lembaga kesehatan yang dimilikinya, menolong orang-orang yang terpapar virus corona.

“Begitulah cara Muhammadiyah membingkai dakwah amar makruf dan nahi mungkarnya. Semua dilakukan secara kultural dalam diam dan jauh dari suasana gegap gempita sehingga kurang menarik untuk diberitakan di media masa. Yang dimaksud dakwah kultural di sini adalah dakwah yang tidak dilakukan dengan paksaan,” katanya.

Ketua Majelis Dikdasmen PCM GKB Nanang Sutedja, SE, MM mengatakan kegiatan Supervisor Manajemen Program #2 ini diadakan supaya Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah mempunyai pengetahuan yang sama dalam melaksanakan manajemen sekolah.

“Sekolah harus punya best effort, sinergi level up dan terus meningkatkan kompetensi di berbagai bidang,” tambahnya.

Dia menyampaikan jika manajemen bakat saja tidak cukup untuk membangun kerjasama, karena itu perlu solidaritas team work sehingga mampu menjalankan program dengan baik.

Reporter: Firdausi Nuzula/Yusuf.

Sumber : https://ibtimes.id/dakwah-muhammadiyah-itu-kultural-bukan-gegap-gempita/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *