Waktu Bom Hiroshima Meledak, Pemerintah Jepang Bukan Bertanya Berapa Kerugian, tapi Berapa Jumlah Guru yang Masih Hidup

Kasdari saat memberikan sambutan pada wisuda siswa kelas VI SD Mugeb Angkatan XVIII

Orangtua jangan memaksakan anak bersekolah menurut pilihan tanpa dasar yang tepat. Pilihlah sekolah yang semangat gurunya mengajar tanpa mikir ini anak siapa.

Hal itu dikatakan Kasdari MPd MM, kepala Bidang Tenaga Pendidik dan Kependidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik dalam wisuda siswa kelas 6 SD Muhammadiyah 1 GKB (SD Mugeb) di Cordoba Convention Hall SMAM 10 GKB, Kamis (7/6/2018).

“Jangan sampai bapak-ibu paksa anak memilih sekolah pilihan bapak/ibu tanpa dasar yang pas,” kata Kasdari berpesan kepada wali murid saat memberi sambutan.

Menurut dia, salah satu dasar terpenting dalam memilih sekolah adalah dasar semangat guru dalam memberikan ilmu kepada siswanya. “Yang penting itu semangat guru mengajar tanpa mikir ini anak siapa,” ujar dia menegaskan.

Dalam sejarah bom Hiroshima dan Nagasaki, dia bercerita, sesaat setelah insiden selesai yang ditanyakan pemerintah bukan berapa kerugian negara, berapa gedung yang rusak. “Yang ditanyakan pertama kali adalah berapa jumlah guru yang masih hidup?” katanya diikuti tepuk tangan siswa dan wali siswa.

Melihat ketertiban dan kekhidmatan dalam acara wisuda ini dia sangat terkesan. “Siswa SD Mugeb ini luar biasa,” katanya.  “Prestasi akademik dan pengembangan diri SD Mugeb tidak perlu diragukan,” tuturnya. (Nasafi)

Drama Pantomim Buka Pembacaan Penghargaan di Wisuda SD Mugeb

Pemeran Drama Pantomim pada Wisuda XVIII SD Mugeb

Ada yang berbeda saat pembacaan penghargaan siswa berprestasi dalam wisuda siswa kelas 6 angkatan XVIII SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (SD Mugeb), Kamis (7/6/2018).

Irma Sonya Suryana SKom, wali siswa dari Aldy Syahdil Haq menyampaikan kekagumannya dalam pelaksanaan wisuda yang tertib dan khidmat. “Tahun ini bagus ada atraksi pantomim sebelum pembacaan penghargaan,” ungkap Sonya.

Adalah Evelin Aufa Nadhifa (Evelin), Caesarina Azmi G (Sesa), Pradita Jesica B (Jesica), Naufal Arkan A (Naufal), Raffi Nabighah S W (Rafi), yang memerankan pantomim dengan tema pencurian dokumen berharga yang berisi nama-nama siswa berprestasi. Gerak pantomim yang dimainkan anak-anak ini mengundang tawa.

Dibantu narasi cerita yang dibacakan oleh Jesica, penonton bisa memahami gerakan mimik dan tubuh pemain. Dengan cengkok khas anak kecil, narasi menjadikan pikiran kita berimajinasi. Pencurian dokumen dilakukan oleh Raffi saat dipegang oleh Sesa. Petugas keamanan yang dimainkan dengan bagus oleh Evelin dan Naufal bisa menangkap  Raffi. Dokumen dikembalikan ke Sesa.

Selanjutnya dokumen diserahkan kepada Siti Latifah SPd yang bertindak sebagai pembaca peraih penghargaan siswa berprestasi dalam acara wisuda itu. Dari tari pantomim itu acara dimulai. Waka Kesiswaan Siti Latifah merasa terharu karena pemain pantomim begitu menjiwai peran mereka saat berakting. “Tak ada celah layaknya pemain profesional,” ungkapnya. (Nasafi)

Dari Dua Doa I’tidal ini, Mana Yang Paling Kuat?

M Taufiq saat menjelaskan bab sholat kepada seluruh guru karyawan SD Mugeb

Seluruh guru dan karyawan SD Muhammadiyah GKB (SD Mugeb) Gresik mengawali aktivitas bekerjanya dengan kajian bab shalat oleh Ustadz Mohammad Taufiq MPdI, Sabtu (2/6/2018).

Pengajian yang diawali dengan doa dan tadarus ini mendapat respon positif dari warga sekolah. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya pertanyaan yang mengalir selepas materi disampaikan.

Taufiq menjelaskan, ada beberapa versi bacaan shalat di Gresik, tapi Muhammadiyah mengambil dari dalil yang terbaik dari perawi yang adil dan dhobit. Yaitu perawi yang daya ingatnya lebih kuat. ”Urutan perawi yang adil dan dhobit yang pertama adalah Bukhari, kemudian Muslim,” jelasnya.

Agus Suprayitno SPd, peserta kajian, dengan rasa ingin tahu menanyakan tentang perbedaan bacaan i’tidal yang terjadi di masyarakat dan kesahihan hadits yang dijadikan landasan keduanya. ”Bagaimana kesahihan bacaan i’tidal yang kita baca dan doa i’tidal yang lainnya?” tanyanya.

Dalam pemaparannya, Taufiq memberikan contoh dua doa i’tidal  yang berbeda. Doa pertama adalah Rabbana wa lakal hamd dari hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Sedangkan yang lainnya Rabbana lakal hamdu mil ussamaawaati wal ardli wa mil umaa syi’ta min syai’in ba’d dari riwayat Muslim.

“Meski dua-duanya sah dipakai, tapi Muhammadiyah mengambil yang rajih atau kuat. Karena diriwayatkan oleh dua imam hadis yang shiqah, yaitu Bukhari dan Muslim artinya muttafaqun alaih,” paparnya.

Pria  40 tahun ini menyampaikan harapannya setelah memberikan materi shalat ini seluruh bacaan shalat yang digunakan adalah yang terbaik dari perawi yang adil dan dhobit. ”Bacaan shalat yang terbaik ini semua sudah terangkum dalam HPT,” katanya menutup kajian. (Nasafi)

X